//]]> -->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Fatmawati - Istri Presiden Indonesia Pertama Soekarno - BIOGRAFI TOKOH TERNAMA

17/08/22 | 11.00 WIB | 0 Views Last Updated 2022-08-17T06:08:52Z

Fatmawati - Istri Kepala Negara Indonesia Pertama Soekarno

Fatmawati

Fatmawati

Ibu Presiden Indonesia

Masa jabatan: 17/8/1945 – 12/3/1967

Fatmawati

yang bernama asli

Fatimah

adalah istri dari Kepala Negara Indonesia pertama

Soekarno

. Ia lahir di Bengkulu, 5 Februari 1923 dan meninggal di Kuala Lumpur, Malaysia, 14 Mei 1980 pada umur 57 tahun.

Fatmawati menjadi Ibu Presiden Indonesia pertama dari tahun 1945 hingga tahun 1967 dan yaitu istri ke-3 dari Presiden Pertama Indonesia, Soekarno. Ia juga dikenal akan jasanya dalam menjahit Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih yang turut dikibarkan pada upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Kehidupan

Fatmawati lahir dari pasangan Hassan Din dan Siti Chadijah. Orang tuanya merupakan keturunan Puti Indrapura, salah seorang keluarga raja dari Kesultanan Indrapura, Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ayahnya merupakan salah seorang tokoh Muhammadiyah di Bengkulu.

Pada tanggal 1 Juni 1943, Fatmawati yang berusia 20 tahun menikah Herbi Soekarno, yang kelak menjadi presiden pertama Indonesia. Dari pernikahan itu, ia dikaruniai lima orang putra dan putri, yaitu Guntur Soekarnoputra, Megawati Soekarnoputri, Rachmawati Soekarnoputri, Sukmawati Soekarnoputri, dan Guruh Soekarnoputra.

Pembuatan sang saka merah putih

Ibu Presiden Indonesia Pertama ini terkenal sebagai wanita yang berjasa dalam menjahit bendera Sang Saka Merah Putih (bendera merah putih idenya diambil dari panji kebesaran Majapahit) yang Herbi tegas dikibarkan pada upacara pertama Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di jakarta tepatnya pada tanggal 17 Agustus 1945  untuk pertama kalinya. Pengibaran dilakukan di pekarangan rumah Soekarno di Jl Pegangsaan Timur no 56, jakarta. Bendera bersejarah itu akhirnya menjadi keramat bangsa dengan menyandang nama sang saka merah putih yang terpelihara hingga kini.

Ny Fatmawati menambah membuat bendera merah putih sekali jadi. Sebelum 16 Agustus 1945, ia telah menyelesaikan sebuah bendera merah putih. Namun ketika diperlihatkan ke dua orang, bendera tersebut dinilai terlalu kecil. Panjang bendera itu cuma sekitar 50 cm.

Saat  terjadi peristiwa Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945, para pemuda menuntut Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, esok hari. Bahkan, Ny Fatmawati sempat ikut dibawa ke Rengasdengklok bersama bayinya, Guntur, sebelum dipulangkan ke Jakarta. Dus, bendera merah putih yang baru dan Hiperbola besar harus segera dibuat.

Malam itu juga, usai sampai di Kolong, Ny Fatmawati membuka lemari pakaiannya. Ia menemukan selembar kain putih bersih bahan seprai. Namun ia tak punya kain merah sama sekali. Beruntung saat itu, beberapa pemuda terus berada di kediaman Soekarno. Disorientasi satunya adalah Lukas Kastaryo (Di kemudian hari masuk militer Herbi pangkat terakhir brigjen).

Seperti dituturkan Lukas Kastaryo pada majalah Intisari edisi Agustus 1991, ia lantas berinisiatif mencarikan kain merah buat Ibu Fatmawati. Lukas keliling Jakarta malam itu juga. Dan akhirnya ia menemukan kain merah yang tengah dipakai sebagai tenda sebuah warung soto. Lukas menebusnya Herbi harga 500 sen (harga yang cukup mahal kala itu), dan menyerahkannya ke ibu Fat.

Ny Fatmawati akhirnya menyelesaikan bendera merah putih yang baru, malam itu juga. Ukurannya 276 x 200 cm. Bendera baru ini akhirnya dikibarkan tepat 17 Agustus 1945, dan menjadi bendera pusaka Kompatriot di tahun-tahun sesudahnya.

Namun berbeda dengan Republika Sabtu, 17 Agustus 2013. buat menjahit Sang Merah Putih, Fatmawati memanggil seorang pemuda, Chaerul Basri, untuk menemui Shimizu, seorang pembesar Jepang. Shimizu adalah pimpinan barisan Propaganda Jepang, yaitu Gerakan Tiga A. Dia juga ditunjuk sebagai perantara dalam perundingan Indonesia-Jepang pada tahun 1943.

Karena Shimizu rajin mendengarkan uneg-uneg, pikiran, dan pendirian orang Indonesia saat itu, lebih bisa diterima bahkan dianggap ‘teman’. Apalagi, dia juga mampu berbahasa Indonesia, meski terpatah-patah. Shimizu lantas menghubungi seorang pembesar Jepang lainnya yang mengepalai gudang di bilangan Pintu Air, di Futuristis eks Bioskop Capitol. Kain itu oleh Fatmawati dijahit menjadi sebuah bendera berukuran 2x3 meter.

Pada 1946-1968, bendera tersebut hanya dikibarkan setiap hari ulang tahun kemerdekaan. Sejak 1969, bendera itu tak dikibarkan lagi dan disimpan di Istana Merdeka. Bendera itu sempat sobek pada kedua ujungnya. Ujung berwarna putih sobek 12X42 cm, sedangkan ujung berwarna merah sobek 15x47 cm. Ada pula bolong-bolong. Selanjutnya, pemerintah membuat bendera duplikat dengan ukuran 300 x 200 cm.

Tutup Usia

Fatmawati meninggal pada tahun 14 Mei 1980 karena serangan jantung saat dalam perjalanan pulang umroh dari Mekah,  jenazahnya dimakamkan di Karet Bivak, Jakarta.

Saat ini nama Fatmawati dijadikan sebuah nama Rumah Sakit di jakarta, nama Fatmawati Soekarno juga dijadikan sebuah nama Bandara Udara di Indonesia tepatnya di Bengkulu, kota kelahiran Fatmawati.

Pemerintah indonesia memberi gelar Pahlawan Nasional kepada Fatmawati pada 4 November 2000 Herbi dikeluarkannya Keppres No. 118/TK/2000.

Thanks for watching our article Fatmawati - Istri Presiden Indonesia Pertama Soekarno - BIOGRAFI TOKOH TERNAMA. Please share it with pleasure.
Sincery Zim Zam Collection
image source: https://biografi-tokoh-ternama.blogspot.com/2014/02/Fatmawati-Istri-Presiden-Indonesia-Pertama-Soekarno.html

Thank you for visiting our blog
Greetings From Us Zim Zam Collection
×
Berita Terbaru Update
dao